
Ada fenomena belakangan ini di dunia film. Terutama film pendek dengan rasio layar vertikal. Episode pertama adalah jeratan permulaan untuk terus melanjutkan ke episode berikutnya. Semakin mengikuti, jeratan itu semakin kuat.
Alur film ini tidak akan memberikan kesempatan kepada penontonnya untuk berhenti. Semakin mengikuti setiap episode, maka semakin kuat jebakan emosi itu tertanam. Seakan sutradara film itu berkata, “jangan berharap kamu akan lepas.” Terbukti, film pendek ini menjamur, banyak aplikasi serupa bermunculan.
Strategi mereka memberikan satu episode gratis. Dari satu episode gratis inilah penonton dipaksa menginstal aplikasi mereka. Setelah aplikasi terinstal, maka akan ada banyak film pendek yang mereka tawarkan. Judul film, latar waktu, tema film sangat beragam. Tapi dari semua film itu ada satu kesamaan, yaitu alur cerita.
Di awal episode, penonton sudah tahu kalau tokoh utama ini bukan karakter sembarangan. Hanya saja, alur cerita ini memaksa tokoh utama tidak bisa mengungkapkan jati diri yang sebenarnya. Difitnah dia diam, dijelek-jelekkan dia diam, dicela, dihujat, dan dihina dia juga diam saja. Tapi hari ini, saya sampaikan, saya akan lawan. Hehehe, tidak seperti itu, tenang-tenang.
Adegan ini yang membuat penonton dikuras emosinya. Semua orang yang ada di situ sebenarnya tidak ada apa-apanya. Dibandingkan dengan tokoh utama, mereka itu cuma kroco-kroco. Tapi gayanya sok paling kuat dan paling hebat. Pemandangan ini tidak hanya terjadi dalam satu episode. Di semua episode terus seperti ini, sehingga level emosinya semakin meningkat.
Pertanyaannya, kapan berakhirnya? Sampai cerita ini tamat.
Alur cerita ini memang sangat powerful untuk menjaga retensi penonton. Dari fenomena film pendek ini, kita bisa ambil banyak pelajaran. Mulai dari strategi cerita film, alur, teknik retensi, dan pemasaran mereka.
Menurut kamu, pelajaran apa yang bisa kamu ambil? Dan film pendek apa yang sudah kamu tonton? Coba deh tinggalkan komentar di bawah.






