Kenapa Kita Ingin Tulisan Kita Dibaca Orang Lain

Kenapa Kita Ingin Tulisan Kita Dibaca Orang Lain?

Kenapa Kita Ingin Tulisan Kita Dibaca Orang Lain-

Kalau bukan selalu soal viral atau terkenal, sebenarnya apa yang kita cari?

Naluri Manusia dalam Berbagi

Dari dulu manusia punya naluri untuk menceritakan pengalaman, ide, atau gagasan. Sejak ada internet, kita sangat mudah untuk menulis, lalu mempublikasikannya, dan orang lain membaca.

Kita juga nggak perlu menjadi seorang penulis profesional. Karena bentuk tulisannya sekarang bisa sangat sederhana. Menulis status, menulis caption, menulis komentar, catatan, blog, ataupun artikel.

Tempat memposting tulisan kita sekarang banyak pilihan. Berbagai macam sosial media bisa menjadi tempat untuk publikasi tulisan.

Tapi sebenarnya, kenapa kita ingin membagikan sesuatu?

Antara Ingin Dibaca Orang dan Cuma Jadi Draft di HP

Pernah menulis sesuatu karena lagi ada ide atau pikiran tertentu? Pernah menulis di notes/Google Doc atau aplikasi menulis lainnya tetapi nggak pernah dibaca orang?

Atau barangkali ada seseorang yang merespons tulisan kita dan kita senang banget?

Atau paling nggak menulis status di WhatsApp biar semua orang tahu kita sedang apa.

Ada yang pernah menulis caption, status, atau blog, tapi akhirnya nggak jadi di-publish? Sekali menulis panjang, tapi baru satu paragraf mereka nggak mau menyelesaikan bacaan tulisan kita?

Kita bilang cuma menulis iseng, nggak peduli ada like, komentar, atau respons apa pun, tapi diam-diam kita mengecek? Atau menunggu notifikasi?

Kalau memang benar-benar nggak peduli, kenapa kita masih mengecek?

Dorongan Alami dan Eksistensi Diri

Faktanya, orang-orang selalu membagikan status mereka. Entah itu di status WhatsApp, Instagram, atau sosial media yang lain. Walaupun tulisan-tulisan itu tidak banyak mendapatkan tanggapan.

Ada dorongan alami yang begitu kuat untuk berbagi. Ingin menunjukkan kalau “aku lagi di sini lho”.

“Aku lagi makan di tempat makan yang seru dan enak.”

“Aku lagi olahraga menunjukkan gaya hidup sehat.”

“Aku lagi baca buku yang keren.”

Semakin keren bukunya, semakin menaikkan rasa bangga dan prestise.

Bukan selalu karena ingin terkenal. Kadang kita hanya ingin menunjukkan sesuatu tentang diri kita.

Tulisan bisa menjadi cara menunjukkan sisi diri yang barangkali susah kalau harus disampaikan lewat obrolan langsung.

Coba bayangin, setiap hari kita terus mendapatkan informasi baru. Sensasi perasaan yang terus berubah, oleh sebab itulah keinginan dan dorongan itu muncul.

Tanpa diminta, dipaksa, dan justru dibarengi motivasi yang kuat.

“Kok bisa begitu?”

Balik lagi kepada sisi naluriah kita sebagai manusia. Ada proses pelepasan pikiran dari dalam diri. Walaupun barangkali tulisan kita nggak dibaca sama siapa-siapa.

Kebutuhan akan Validasi

Kita itu makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Rasanya pasti senang banget kalau ada orang yang mau baca tulisan kita.

Apalagi tidak sekadar membaca, mereka mau memberikan komentar pada tulisan kita, itu sesuatu banget.

Karena yang kita butuhkan secara naluri adalah validasi. Secara alami, menulis dan membagikan memang untuk menunjukkan eksistensi.

Orang yang paling introvert sekalipun yang cenderung suka sepi, mereka nggak mau kesepian.

Saya menulis ini juga nggak terlalu memikirkan bakal ada yang baca. Tapi apa kepikiran tulisan ini untuk dibaca orang lain?

Ya, tentu, karena tulisan ini saya posting di blog ini.

Artinya, keinginan untuk dibaca itu memang ada. Tapi apakah keinginan untuk dibaca selalu berarti kita ingin terkenal?

Menulis untuk Kepuasan Diri

Pasti harapan akan dibaca orang lain ada. Tapi itu bukan alasan utama saya menulis, alasan utamanya adalah kepuasan diri sendiri.

Nggak semua orang menulis itu biar terkenal, menulis supaya followers-nya nambah banyak, membagikan tulisan biar banyak yang like, atau menulis itu ingin menjadi seorang influencer.

Tapi kadang kita terjebak pada anggapan bahwa tulisan yang bagus itu harus banyak yang membacanya.

Kalau tidak banyak yang membaca, berarti tulisan itu tidak bagus dan tidak penting.

Apakah anggapan di atas tepat?

Menyampaikan Sesuatu tanpa Mengejar Popularitas

Banyak kok orang tetap menulis tapi dia nggak terkenal.

Banyak orang nggak pingin jadi influencer tetapi dia menulis. Ada banyak orang yang tidak berusaha viral, tetapi tetap tulisannya ingin dibaca.

Ada juga orang-orang yang menulis bukan untuk mencari ketenaran, tetapi untuk menyampaikan sesuatu.

Kalau bukan untuk ketenaran dan popularitas, lalu untuk apa?

Lalu apa sebenarnya yang kita cari saat kita membagikan tulisan?

Dan mengapa kita ingin tulisan kita dibaca?

Apakah menulis selalu untuk alasan biar terkenal?

Apakah menulis itu sebenarnya bentuk dari cara kita berkomunikasi?

Fungsi Tulisan sebagai Media Komunikasi

Sebetulnya tulisan kita itu ingin dipahami orang atau ingin memahami?

Banyak pertanyaan pada akhirnya muncul dalam pikiran kita.

Tapi dari sini kita mulai melihat bahwa tulisan bukan hanya tentang siapa yang membaca, berapa banyak yang membaca, atau berapa banyak respons yang kita dapatkan.

Tulisan itu bisa membawa pengalaman, ide-ide, gagasan, sudut pandang tentang sesuatu, kepada orang yang membaca.

Kita menulis karena punya gagasan dan pengalaman, dan menulis adalah salah satu cara menyampaikannya.

Kalau tulisan kita dibaca, berarti gagasan sampai kepada orang lain.

Jadi, tulisan bukan hanya tentang ingin dilihat. Ada sesuatu yang ingin kita sampaikan.

Perlu kita ketahui juga kalau tulisan itu bisa bertahan lebih lama ketimbang ketika kita ngobrol.

Dan di sinilah tulisan mempunyai sesuatu yang berbeda.

Kelebihan Menulis Dibandingkan Berbicara

Menulis adalah cara yang memungkinkan kita menyampaikan ide dan gagasan dengan detail dan terperinci.

Ada ide dan gagasan tertentu yang sulit diucapkan kecuali lewat tulisan.

Tidak seperti berbicara, menulis memberikan kita kesempatan untuk memilih kata dan menyusun pikiran kita.

Coba deh kita sadari, tulisan itu tetap memiliki momentum setelah selesai dibuat.

Pengalaman pribadi kita bisa berubah menjadi catatan.

Pengetahuan yang kita pelajari bisa menjadi dokumentasi.

Apa yang tadinya cuma ada di dalam pikiran, akhirnya menjadi sesuatu yang bisa dibaca kembali.

Meninggalkan Jejak Pemikiran

Dan kumpulan tulisan akhirnya dapat menggambarkan perjalanan pemikiran seseorang.

Berapa banyak buku-buku yang ditulis oleh para ulama kita yang sampai saat ini menjadi penerang buat kita?

Berapa banyak tulisan dari seorang ilmuwan yang ditulis dalam sebuah catatan akhirnya menjadi ilmu dan bermanfaat bagi kita hingga saat ini?

Bahkan para penulis itu sekarang sudah tiada, tetapi tulisan mereka masih ada, hidup, dan terus memberikan pencerahan kepada kita.

Jejak menunjukkan kalau seseorang pernah melewati suatu tempat.

Tulisan bisa menjadi jejak kalau seseorang pernah berpikir, belajar, mengalami, dan merasakan sesuatu.

Jadi, tulisan bukan cuma sesuatu yang kita buat hari ini. Bisa jadi, tulisan itu menjadi sesuatu yang ditemukan orang lain di kemudian hari.

Alasan Utama di Balik Tulisan

Sampai di sini kita menyadari bahwa keinginan tulisan dibaca tidak selalu berakar dari keinginan untuk jadi terkenal.

Ada alasan lebih kuat daripada terkenal: ingin menyampaikan, ingin dipahami, ingin terhubung, ingin diingat, dan ingin meninggalkan jejak.

Menulis tidak selalu karena ingin tulisannya dibaca atau ingin perhatian. Seseorang memiliki motivasi yang berbeda-beda ketika menulis.

Menulis adalah cara manusia mengikat emosi, menyebarkan pemikiran, dan menolak hilang dari sejarah.

Nggak salah kok kalau ingin tulisan kita dibaca orang lain.

Tetapi nggak semua keinginan untuk dibaca semata-mata mengejar popularitas.

Barangkali yang kita cari bukan sekadar terkenal. Barangkali kita hanya ingin apa yang kita pikirkan, apa yang kita pelajari, dan apa yang kita alami tidak hilang begitu saja.

Menjaga Agar Karya Tidak Hilang

Akhirnya kita pun menyadari, semakin banyak tulisan yang kita buat, muncul persoalan baru.

Bagaimana agar tulisan-tulisan itu tidak hilang atau tercecer?

Kita harus memiliki alasan sebenarnya mengapa kita menulis.

Mulailah memperlakukan tulisan yang kita buat sebagai sesuatu yang sangat layak disimpan.

Mulai pikirkan bagaimana tulisan-tulisan kita itu merupakan sebuah karya.

Kumpulan jejak yang bisa ditemukan kembali dengan mudah, dan orang lain dapat dengan mudah menemukannya.

Karena kalau tulisan hanya dibuat lalu dibiarkan tenggelam, jejak itu juga akan sulit ditemukan kembali.

Jika kita ingin meninggalkan jejak, tidak membiarkannya tenggelam di timeline, dan ingin membuat tulisan itu mudah ditemukan, di mana jejak itu berada?

Mungkin pertanyaan berikutnya bukan lagi “siapa yang bakal membaca tulisan saya?”, tetapi “di mana tulisan saya akan tetap ada?”

Pasirgurun.
Pasirgurun.

Saya orang di balik PASIRGURUN. Blog pribadi tempat saya menyimpan berbagai hal yang saya temui, pelajari, kerjakan, dan pikirkan. Kadang membahas sejarah dan peradaban Islam, kadang buku dan psikologi, kadang WordPress, SEO, teknologi, atau sekadar cerita-cerita kecil yang sayang kalau lewat begitu saja. Kok namanya PASIRGURUN? nah ceritanya ada disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *