
Sekarang semua serba AI. Apa-apa dibuat pakai AI. Tulisan dibuat pakai AI. Gambar dibuat pakai AI. Hampir semua perkontenan dibuat pakai AI. Bahkan tulisan yang dengan gaya tulisan manusia, itu juga dibuat pakai AI. Seolah-olah tulisan itu ditulis oleh orang asli.
Tapi sesama AI bisa saling mengenali tulisan itu buatan AI atau buatan manusia.
Kenapa AI bisa tau? Mereka itu mesin, punya pola yang presisi, rapi, dan pengulangan. Biarpun dia sudah diperintahkan menulis dengan random, struktur bahasa manusia, level menulis paling awam, joke yang manusia banget, pokoknya semua sudah kayak manusia, tetap saja sesama AI bisa baca itu.
Mau kasih dia pengetahuan tentang informasi autentik di suatu daerah biar dia sisipkan dalam tulisan?
Misalnya tentang Gunung Merapi, alamnya, wisatanya, masyarakatnya, kulinernya, bahasanya, tetap akan terbaca sesama AI.
Iya, dia bisa meniru plek ketiplek seperti manusia, dia bisa seolah-olah menulis ngopi di pagi hari dengan suasana udara kaki Gunung Merapi. Tapi itu dia hanya meniru layaknya burung beo yang meniru kosakata manusia. Sejatinya beo ya hanya seekor burung yang tidak punya akal.
AI bisa membantu pekerjaan manusia. Adanya AI pekerjaan manusia berkali-kali lipat lebih cepat. Cara kita dapat informasi tidak seperti dulu, sekarang tinggal tanya AI semua tersaji dalam sekejap. Sungguh sangat ajaib.
Apa pun yang kita minta, AI akan dengan cepat menyajikannya.
Tinggal kita mau pakai AI ini cuma sebagai jalan pintas untuk menghasilkan sebuah tulisan? Atau kita pakai dia untuk mempercepat proses belajar kita.
Apakah kita punya blog untuk diisi dengan konten tulisan buatan AI? Atau kita jadikan blog sebagai sarana untuk menuangkan ide dan isi pikiran kita?
Sejenak berhenti dulu memikirkan klaster postingan tentang menulis. Tentang WordPress sebagai rumah tulisan. Ada kegelisahan tentang AI yang bisa meniru gaya bahasa yang katanya sangat manusia, tapi dia cuma bisa meniru tanpa jiwa.







