Tidak Suka Tampil di Kamera Kamu Tetap Bisa Eksis Lewat Tulisan

Tidak Suka Tampil di Kamera? Apa Tetap Bisa Eksis Lewat Tulisan

Ide itu udah banyak numpuk di kepala, tapi saat di depan kamera, tiba-tiba bingung mau ngomong apa dan mulai dari mana. Punya pengalaman kayak gini?

Tenang, kamu nggak sendirian. Banyak orang kok mengalami masalah yang sama.

Padahal, banyak di antara kita itu punya pemikiran yang luas. Suka membaca, suka menulis, punya pengalaman panjang, pengetahuannya banyak, dan senang berbagi sesuatu.

Semua ide itu sebetulnya udah ada dalam kepala kita, dan pingin banget kita sampaikan ke orang lain. Tapi giliran mau buat konten, kita mendadak canggung, nggak terbiasa, dan nggak percaya diri.

Siklus Geli Lihat Video Sendiri

Masalahnya, begitu coba lihat video sendiri, kita malah merasa, “Ih, kok aneh.”. Sering kali geli lihat wajah sendiri di video, atau dengar suara kita yang cempreng. Ujung-ujungnya, kita malah malu dengan diri sendiri.

Belum lagi kalau kita terinspirasi sama video-video keren yang banyak berseliweran di media sosial. Kita pingin meniru dan mengemas ide kita seperti video itu. Tapi dampaknya, kita malah terpaksa menjadi orang lain ketika direkam.

Proses ini terus berulang: setiap kali punya ide mateng di kepala, kita coba rekam, tapi di tengah jalan langsung merasa nggak pede. Begitu melihat hasilnya, kita timbang-timbang lagi, “Kok geli ya? Gimana orang lain nanti menilainya?” Akhirnya? Nggak jadi rilis.

Siklus inilah yang membuat kita pada akhirnya nggak pernah membuat konten atau tulisan sama sekali.

Emang Eksis Harus Selalu Tampil di Kamera?

Melihat kenyataan ini, muncul sebuah pertanyaan penting: Apakah memang untuk bisa eksis di internet itu kita harus selalu tampil di depan kamera?

Di saat video sudah sangat mendominasi, apakah tulisan masih punya tempat? Atau, emang eksis harus selalu menunjukkan wajah kita?

Anggapan seperti itu sebetulnya tidak selalu tepat. Eksis di internet tidak selalu berarti harus tampil di depan kamera, dan nggak diukur oleh seberapa sering kita buat video.

Orang itu bisa dikenal lewat tulisan, lewat pemikirannya, karya-karyanya, pengetahuannya, atau sudut pandangnya. Jadi, tampil di kamera bukan jalan satu-satunya.

Nggak Semua Orang Jago Ngomong Lewat Lisan

Lagipula, nggak semua orang bisa menyampaikan pikirannya secara lisan. Ada orang yang ketika menulis, tulisannya bagus banget, enak dibaca, mengalir, bahkan jenaka dan lucu. Tapi giliran disuruh ngomong menyampaikan idenya secara lisan, dia justru bingung mau ngomong apa.

Hal ini wajar, karena sebagian orang memang lebih suka dan nyaman menjelaskan sesuatu lewat tulisan.

Kalau kita mau jujur, kamera itu hanya salah satu dari sekian banyak pilihan sarana, bukan satu-satunya. Kita bisa memilih menulis artikel untuk blog, membuat tulisan pendek, catatan, atau ilustrasi.

Bagi yang profesinya desain, kita bisa menyampaikan informasi lewat desain grafis. Atau kalau suka ngomong tapi nggak suka di depan kamera, kita bisa pakai versi audio.

Jadi, kita nggak harus terpaku pada kamera untuk bisa hadir dan berkarya di internet.

Bukan Soal “Gimana” Tampil, tapi “Apa” yang Disampaikan

Jika kembali ke pertanyaan awal, jawabannya selalu bukan tentang gimana kita tampil, tapi lebih pada apa yang ingin kita sampaikan. Ide apa yang ingin kita simpan agar tidak tenggelam dan hilang?

Dan yang lebih penting, bagaimana kita meninggalkan sesuatu dari pemikiran kita untuk orang lain, sekaligus untuk diri kita sendiri yang akan kita baca di kemudian hari.

Jadi, kita tidak harus memaksakan diri menggunakan cara yang tidak kita sukai, sementara ada banyak sekali hal bermanfaat yang ingin kita sampaikan.

Sekali lagi, kenapa harus memaksakan diri lewat kamera padahal kita nggak suka? Nggak semua orang harus tampil di kamera.

Nah, pertanyaan terakhir buat kita semua: kalau begitu, lewat apa kita bisa menyimpan atau membagikan tulisan kita kepada orang lain?

Pasirgurun.
Pasirgurun.

Saya orang di balik PASIRGURUN. Blog pribadi tempat saya menyimpan berbagai hal yang saya temui, pelajari, kerjakan, dan pikirkan. Kadang membahas sejarah dan peradaban Islam, kadang buku dan psikologi, kadang WordPress, SEO, teknologi, atau sekadar cerita-cerita kecil yang sayang kalau lewat begitu saja. Kok namanya PASIRGURUN? nah ceritanya ada disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *