
Zaman sekarang, eksis di internet itu sering banget cuma dinilai dari angka-angka di sosmed. Ya faktanya memang begitu sih, di internet kan yang paling gampang kelihatan ya angka: jumlah follower, like, views, komentar, sampai subscriber.
Karena angka-angka ini fakta yang kelihatannya makin jelas, makanya sering dipakai buat menilai seberapa eksis seseorang.
Ukurannya jadi simpel: makin banyak yang follow, makin dikenal. Makin banyak yang ngelihat, dianggap makin eksis. Sebaliknya, kalau responsnya sepi, langsung berasa nggak dianggap atau nggak eksis.
Angka Cuma Mengukur Jangkauan, Bukan Keberadaan
Padahal kalau mau dicermati lebih dalam lagi, angka-angka itu sebetulnya cuma menunjukkan jangkauan respons terhadap satu konten aja. Nggak menggambarkan seluruh keberadaan kita di internet.
Sebelumnya saya sempat menulis juga, nggak semua orang itu pengin jadi influencer.
Ada orang yang pakai internet cuma buat berbagi pengalaman, nulis apa yang ada di pikirannya, sekadar mendokumentasikan jalan-jalan, menyimpan karya, bagi-bagi ilmu, atau ngebangun portofolio yang di-publish ke internet.
Ya bisa aja kan mereka memang nggak ada niat buat ngumpulin follower banyak-banyak?
Nggak Viral Bukan Berarti Nggak Berguna
Coba bayangkan, seseorang bikin tulisan terus diposting di blog. Tulisannya nggak viral, follower-nya juga nggak banyak. Tapi beberapa waktu kemudian, ada orang yang menemukan tulisan itu lewat pencarian Google, dan dia merasa tulisan itu membantu banget.
Pertanyaannya: apakah tulisan tadi jadi nggak ada artinya atau nggak berguna, cuma gara-gara yang nulis nggak punya banyak follower?
Bedanya Follower dan Pembaca
Coba kita bedakan antara follower dan pembaca. Dua-duanya memang beririsan, tapi kondisinya nggak selalu sama. Follower itu orang yang mengikuti akun kita, sedangkan pembaca itu orang yang membaca tulisan kita.
Bisa aja kan orang yang punya banyak follower, tulisannya malah jarang dibaca? Sebaliknya, orang yang follower-nya sedikit, artikelnya ketemu di Google dan dibaca sama orang yang bahkan nggak follow sosmed dia sama sekali.
Jadi, Apa Sih Arti Eksis yang Sebenarnya?
Eksis di sini mungkin nggak selalu kita artikan sebagai “populer”. Eksis di internet itu bisa berarti kita punya keberadaan, punya konten, atau punya karya yang bisa ditemukan sama orang-orang, termasuk yang bukan follower kita.
Bentuknya juga banyak. Nggak cuma akun sosmed, tapi bisa berupa tulisan di website, portofolio pekerjaan, komentar kita di forum, dan bentuk publikasi lainnya.
Selama ada seseorang yang bisa menemukan tulisan kita lewat pencarian, artinya kita punya jejak di internet. Meskipun kita nggak terkenal.
Orang Mencari Topik, Bukan Selalu Mencari Figur
Poinnya di sini: follower itu bukan satu-satunya cara orang bisa menemukan kita. Orang bisa nyari dan nemuin kita lewat banyak pintu: Google, rekomendasi artikel, forum, atau lewat link yang dibagikan di grup WhatsApp.
Lagian, nggak semua orang di internet itu nyari orangnya. Banyak dari mereka yang cuma nyari topik yang relevan atau cocok sama kebutuhan mereka saat itu.
Contoh simpel: seseorang lagi ngetik di Google “cara mulai menulis”, terus dia ketemu satu tulisan yang rasanya pas banget. Dia bakal baca dan merasa terbantu, padahal dia nggak pernah follow si penulis sebelumnya. (Sama kayak tulisan ini lah contohnya😃).
Meninggalkan Jejak yang Tepat
Jadi sekali lagi, jangan jadikan follower sebagai satu-satunya ukuran eksistensi kita di internet. Follower dan nilai dari sebuah karya itu dua hal yang berbeda.
Nah, pertanyaan penutupnya nih: kalau kita pengin disebut eksis di internet tanpa perlu pamer jumlah follower, tapi yang kita inginkan adalah membagikan ide, gagasan, dan pikiran yang ada di kepala… kira-kira di mana tempat terbaik buat menaruhnya supaya bisa ditemukan sama orang-orang?






