
Ada alasan psikologis kenapa kita tetap kekeh memposting sesuatu, meskipun nggak banyak orang yang peduli.
Faktanya, kita paling suka menceritakan keresahan yang kita alami. Nggak ada yang minta, justru kadang kita sendiri yang butuh didengerin.
Bisa jadi karena pengalaman pribadi yang sangat berkesan—pengalaman yang jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Atau bisa juga berupa pemikiran yang rasanya nggak mungkin kita ceritakan ke orang lain secara langsung.
Banyak juga orang-orang yang menulis dengan niat nothing to lose aja. Nggak terlalu peduli ada yang baca atau ada pengikut. Jarang menulis, nggak banyak follower, tapi tetap aktif memposting sesuatu.
Momen Spontan dan Pengalaman “Waaah”
Kita itu sering menemukan sesuatu yang menarik, terus spontan aja berpikir orang lain harus tau.
Beberapa waktu yang lalu saya membuat plugin untuk WordPress pakai ChatGPT. Pekerjaan yang rasanya mustahil dibuat sebelum ada AI. Generasi awal AI pun belum mampu membuat plugin walaupun udah bisa coding.
Iseng, kemarin coba buat plugin hanya dengan satu kali prompt, dan berhasil. Keberhasilan membuat plugin pakai ChatGPT ini bikin saya terperangah… waaah. Pengalaman wow seperti ini yang bikin gatal dan harus saya ceritakan ke banyak orang.
Mengeluarin Gagasan dari Kepala
Kembali lagi ke pertanyaan utama kita dalam postingan ini ya. Kenapa orang suka membagikan pemikirannya di internet?
Apakah karena ingin berbagi sesuatu yang dianggap penting dan berguna?
Apakah karena ingin mengenalkan diri kepada masyarakat luas penduduk jagat maya?
Atau karena menulis itu sendiri membuat cara berpikir kita menjadi lebih urut dan runtut?
Gagasan, ide, pemikiran, cuma akan tersimpan di kepala. Tidak akan ada yang tau, tidak bakal ada yang peduli sampai kita bisa mengungkapkannya ke permukaan.
Coba bayangin, saat pemikiran itu ditulis, apa yang bakalan terjadi?
Tulisan itu bisa dibaca kembali dan bisa kita pakai untuk pengembangan ide. Tulisan bisa dibagikan, terus orang lain bisa menemukannya di internet. Dan tulisan itu bisa dijadikan bahan rujukan dan diskusi.
Blog ini saya buat untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. Selama pikiran itu tidak saya tuliskan, maka tidak akan ada yang pernah menemukannya. Dan tetap ada di pikiran saya aja.
Pernah gak membaca sesuatu dan ternyata artikel yang kita baca itu related banget? Lalu bergumam dalam hati, “Lho, ternyata ada juga orang yang mikirnya kayak saya.”
Perasaan “Bukan Siapa-Siapa” dan Rasa Takut Eksis
Ketakutan kita untuk menulis dan eksis di internet itu karena terlalu mikirin kalau kita itu bukan siapa-siapa. Merasa apa yang kita tulis itu nggak layak untuk dibagikan.
Padahal berbagi itu nggak selalu dengan sesuatu yang besar. Setiap kita berbeda dan punya keunikannya masing-masing. Bisa aja lho, sesuatu yang kita anggap biasa aja, belum tentu di mata orang lain seperti itu.
Dorongan Psikologis dan Fitrah Manusia untuk Berbagi
Balik lagi ya ke pertanyaan awal, kenapa orang suka membagikan pemikirannya di internet?
Ada satu jurnal yang menyebutkan manusia itu memang suka berbagi. Suka menceritakan tentang dirinya dan keluh kesahnya. Kenapa itu dilakukan? Menurut jurnal itu1, ketika manusia berbagi dan bercerita, otak akan melepaskan hormon dopamin, yaitu hormon kebahagiaan.
Di dalam Al-Qur’an sendiri banyak disebutkan kalau manusia itu memang dianugerahkan kemampuan bicara, menjelaskan, dan mengekspresikan isi kepalanya2. Bahwa sifat dasar manusia itu suka berkeluh kesah3. Serta manusia itu memang butuh menyalurkan kesedihan dan keresahan hatinya4.
Kalau ternyata fakta manusia memang suka berbagi, bercerita… lantas di mana tulisan-tulisan itu harus kita simpan?
Di tempat yang nggak bakal ditemukan orang? Atau di tempat yang gampang diakses?
- Disclosing information about the self is intrinsically rewarding. Diana I. Tamir and Jason P. Mitchell ↩︎
- Surah Ar-Rahman (55): 3-4 mengenai anugerah kemampuan manusia untuk pandai berbicara, menjelaskan, atau mengekspresikan isi kepala (Al-Bayan). ↩︎
- Surah Al-Ma’arij (70): 19-20 yang menjelaskan secara eksplisit tentang sifat dasar penciptaan manusia yang mudah berkeluh kesah (Halu’a). ↩︎
- Surah Yusuf (12): 86 sebagai rujukan utama contoh keteladanan para Nabi dalam menyalurkan kesedihan dan keresahan hatinya hanya kepada Allah SWT. ↩︎







