
Awalnya saya cuma cari cara supaya nggak capek ngetik. Tapi setelah mencoba aplikasi ini, saya malah kepikiran sebuah sistem yang mungkin bisa membantu tim media menghasilkan lebih banyak konten tanpa menambah beban kerja penulis.
Di artikel ini saya akan bahas tiga hal:
- Bagaimana sistem sederhana ini bisa dipakai tim media untuk menghasilkan lebih banyak konten.
- Aplikasi Android yang saya pakai untuk mengubah suara menjadi teks.
- Kenapa menurut saya cara ini jauh lebih cepat dibanding mengetik.
Saat Pikiran Ngebut, Jari Justru Jadi Hambatan
Ya, pakai aplikasi perekam ini lumayan cepat sih untuk membuat suara menjadi teks.
Jadinya kalau mau nulis tinggal ngomong aja, nggak perlu ngetik. Jadi nggak capek dan lebih cepat. Apa yang kepikiran di kepala tinggal diucapkan aja. Nggak perlu terhenti atau terhambat sama kecepatan tangan atau jari saat mengetik.
Kadang ide sudah lari ke mana-mana, tapi jari belum selesai ngetik satu paragraf.
Aplikasi yang Saya Pakai Namanya Menulis Dengan Suara
Aplikasi yang saya pakai namanya Menulis dengan Suara yang ada di Android.
Yang saya suka dari aplikasi ini adalah akurasinya.
Saya sudah coba beberapa aplikasi serupa. Bahkan ada yang cukup terkenal, tapi kadang hasil transkripnya masih suka aneh. Kita ngomong apa, hasil tulisannya malah berbeda jauh.
Kalau aplikasi ini menurut saya cukup lumayan. Memang tidak sempurna, tapi untuk membuat draft artikel sudah sangat membantu.
Versi gratisnya memang masih ada batasan dan iklan. Tapi sejauh ini masih nyaman dipakai.
Saya Malah Kepikiran Sistem Buat Tim Penulis
Saya kepikiran nantinya tim penulis pakai ini.
Jadi draft artikel atau outline-nya kita siapkan. Setelah itu mereka tinggal menjawab pertanyaan yang kita ajukan pakai aplikasi ini.
Nggak usah mikir koreksi.
Nggak usah sibuk memilih kata.
Yang penting jawab dulu.
Kalau ada kesalahan ucapan juga nggak perlu dihapus atau diulang. Tinggal bilang saja, “Eh, maksud saya yang tadi begini…”
Lalu lanjut lagi.
Mirip seperti orang ngobrol biasa.
Nggak Harus Ketemu, Nggak Harus Ditungguin
Enaknya lagi, sistem ini bisa jalan lewat WhatsApp.
Kita cukup kirim outline atau daftar pertanyaan.
Mereka bisa membuka HP masing-masing, menjalankan aplikasi, lalu mulai menjawab.
Mau sambil lihat catatan juga bisa.
Mau dikerjakan malam hari juga bisa.
Mau dari rumah juga bisa.
Jadi jauh lebih fleksibel dibanding harus menulis langsung dari nol.
Yang Penting Bukan Kemampuan Menulisnya
Menurut saya banyak orang sebenarnya punya pengalaman dan pengetahuan yang menarik.
Masalahnya bukan nggak punya bahan.
Masalahnya mereka malas atau kesulitan menulis.
Nah, dengan sistem seperti ini mereka tidak perlu jadi penulis dulu.
Mereka cukup bercerita.
Nanti hasil ceritanya diubah menjadi teks, lalu dirapikan oleh editor.
Kalau Mau Link Aplikasinya
Kalau ini berjalan dengan baik, tim media bisa mendapatkan lebih banyak bahan konten, sementara kontributor tetap nyaman karena cukup menjawab pertanyaan dan ngomong seperti biasa.
Saya sendiri baru kepikiran sistem seperti ini setelah mencoba aplikasi Menulis dengan Suara di Android.
Kalau ada yang pernah pakai aplikasi serupa dan menurut kamu lebih enak atau lebih akurat, boleh kasih tahu juga.
Atau kalau mau link aplikasi yang saya pakai, tinggal komen aja. Nanti saya bagikan.







