Resensi kitab daulah al islamiyah

Resensi Kitab Daulah Al Islamiyah Karya Taqiyuddin An-Nabhani dan Metode Pendirian Negara Islam

Resensi kitab daulah al islamiyah

Bagaimana Kitab Daulah Al Islamiyah membaca Sirah Nabi sebagai metode perubahan masyarakat hingga berdirinya negara di Madinah? Simak ulasan, gagasan, dan cara baca yang ditawarkan kitab ini. Review ini bakal kita bahas poin-point berikut.

  • Cara kitab ini membaca Sirah Nabawiyah dari sudut yang berbeda.
  • Alur perubahan yang digambarkan dari Makkah sampai Madinah.
  • Benang merah yang menghubungkan setiap fase dakwah Rasulullah.
  • Dan apa yang membuat kitab ini sering dibahas ketika berbicara tentang konsep Daulah Islam.

Ketika Sirah Nabi Tidak Hanya Dibaca sebagai Sejarah

Kalau membaca kitab-kitab sirah pada umumnya, yang sering kita temukan adalah perjalanan hidup Rasulullah dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Kita diajak mengikuti fase dakwah di Makkah, hijrah ke Madinah, peperangan, hingga berbagai peristiwa besar yang terjadi selama masa kenabian.

Nah, Daulah Al Islamiyah karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani mencoba membaca sirah dari sudut yang sedikit berbeda.

Di kitab ini, sirah enggak hanya diposisikan sebagai cerita sejarah atau sekadar rekaman masa lalu. Yang coba dibahas justru bagaimana perjalanan dakwah Rasulullah itu berlangsung dari fase ke fase sampai akhirnya melahirkan perubahan masyarakat dan berdirinya negara di Madinah.

Jadi, sejak awal kita sudah diajak melihat bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana proses itu berjalan.

Sejarah yang Dibaca Sebagai Sebuah Proses

Yang menarik ketika membaca kitab ini adalah cara penulis menyusun peristiwa-peristiwa dalam sirah.

Biasanya kita membaca peristiwa secara terpisah. Ada fase dakwah sembunyi-sembunyi, ada fase dakwah terbuka, ada hijrah, ada berbagai peperangan. Selesai sampai di situ.

Tetapi di kitab ini, peristiwa-peristiwa tersebut seperti dirangkai menjadi satu alur yang panjang. Jadi satu fase seolah menjadi jalan menuju fase berikutnya.

Karena itu, pembahasannya terasa lebih banyak bercerita tentang proses daripada sekadar kronologi sejarah.

Semuanya Berawal dari Pembinaan

Kalau mengikuti alur yang dibangun kitab ini, ternyata pembahasan enggak langsung masuk ke negara atau kekuasaan.

Penulis justru memulai dari fase pembinaan dan pengkaderan yang disebut sebagai at-tatsqif wa at-takattul.

Fokus utamanya ada pada pembinaan akidah, pembinaan pola pikir atau aqliyah, dan pembinaan pola sikap atau nafsiyah kepada orang-orang yang pertama kali menerima Islam, yaitu As-Sabiqunal Awwalun.

Menariknya, proses ini digambarkan berlangsung secara terarah.

Di sinilah Darul Arqam mendapat perhatian cukup besar. Tempat ini muncul bukan hanya sebagai lokasi bersejarah, tetapi sebagai pusat pembinaan generasi awal Islam.

Jadi sebelum berbicara tentang perubahan masyarakat, yang dibangun terlebih dahulu adalah manusianya.

Tidak berhenti sampai situ.

Dari proses pembinaan tersebut kemudian lahir sebuah kelompok yang dalam kitab ini disebut sebagai kutlah. Sebuah kelompok yang bukan hanya punya keyakinan yang sama, tetapi juga punya pola pikir dan pola sikap yang sama.

Ketika Dakwah Mulai Keluar ke Tengah Masyarakat

Nah, setelah kelompok itu terbentuk, pembahasannya mulai bergerak ke fase berikutnya.

Di kitab ini fase tersebut disebut sebagai at-tafa’ul wal kifah as-siyasi.

Kalau sebelumnya fokusnya lebih banyak ke pembinaan internal, maka di sini fokusnya mulai keluar.

Dakwah mulai disampaikan secara terbuka.

Pemikiran-pemikiran yang hidup di tengah masyarakat mulai dikritisi.

Berbagai keyakinan, tradisi, dan kebiasaan yang berkembang pada waktu itu mulai menjadi bahan pembahasan.

Yang menarik, kitab ini melihat fase tersebut sebagai bagian penting dari perubahan masyarakat.

Sebab menurut alur yang dibangun penulis, kelompok yang sudah dibina tadi enggak berhenti sebagai kelompok eksklusif. Mereka mulai berinteraksi dengan masyarakat dan membawa gagasan yang berbeda dari pemikiran yang dominan saat itu.

Di titik ini kita mulai melihat adanya pergolakan pemikiran.

Tekanan Dakwah dan Pencarian Dukungan

Semakin jauh pembahasannya, semakin terlihat bahwa perjalanan dakwah pada masa Makkah bukan perjalanan yang mudah.

Ada tekanan.

Ada intimidasi.

Ada penyiksaan.

Ada pemboikotan.

Tetapi menariknya, kitab ini berkali-kali menyoroti bahwa pada fase Makkah Rasulullah tidak menempuh jalan perlawanan bersenjata.

Sebaliknya, pembahasannya bergerak pada upaya mencari dukungan dari pihak-pihak yang punya kekuatan di tengah masyarakat.

Di sinilah muncul pembahasan tentang thalabun nusrah.

Kalau mengikuti cara baca kitab ini, Rasulullah mendatangi berbagai kabilah Arab untuk mencari dukungan dan perlindungan bagi dakwah yang sedang berjalan.

Tentu prosesnya enggak selalu berhasil.

Ada banyak penolakan.

Ada banyak usaha yang belum membuahkan hasil.

Bahkan ada peristiwa Thaif yang sering disebut sebagai salah satu fase yang berat dalam perjalanan dakwah.

Sampai akhirnya pembahasan mengarah pada Baiat Aqabah Kedua yang menjadi titik penting karena adanya dukungan dari tokoh-tokoh Aus dan Khazraj dari Madinah.

Hijrah dan Babak Baru Perjalanan Dakwah

Setelah itu kita masuk ke fase hijrah.

Biasanya hijrah dipahami sebagai perpindahan dari Makkah menuju Madinah. Dan memang itu bagian dari sejarahnya.

Tetapi dalam kitab ini, hijrah dibaca lebih dari sekadar perpindahan tempat.

Penulis melihat hijrah sebagai perpindahan pusat pergerakan.

Dari sinilah cerita mulai memasuki babak yang berbeda.

Jika sebelumnya pembahasannya banyak berkaitan dengan dakwah di tengah tekanan, maka setelah hijrah pembahasannya mulai bergeser ke pembangunan masyarakat dan pengelolaan kehidupan yang lebih luas.

Membangun Fondasi di Madinah

Setibanya di Madinah, ada beberapa hal yang cukup banyak dibahas.

Yang pertama adalah pembangunan masjid.

Menariknya, masjid dalam pembahasan kitab ini enggak hanya dilihat sebagai tempat ibadah. Masjid juga menjadi pusat aktivitas masyarakat, tempat musyawarah, pusat pembinaan, dan berbagai aktivitas lainnya.

Kemudian ada proses mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar.

Bagian ini dibahas sebagai upaya menyatukan masyarakat yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda.

Lalu pembahasannya bergerak ke pengaturan hubungan berbagai kelompok yang hidup di Madinah.

Jadi yang dibahas bukan hanya kehidupan keagamaan, tetapi juga bagaimana kehidupan masyarakat itu mulai ditata.

Ketika Negara Mulai Menjalankan Perannya

Nah, menariknya kitab ini enggak berhenti pada cerita berdirinya negara.

Setelah itu pembahasannya berlanjut pada bagaimana negara tersebut mulai menjalankan perannya.

Kita akan menemukan pembahasan tentang hubungan luar negeri, diplomasi, keamanan, hingga pengiriman surat kepada para penguasa di berbagai wilayah pada waktu itu.

Perjanjian Hudaibiyah juga mendapat perhatian cukup besar.

Begitu juga berbagai peristiwa lain seperti Khaibar dan Fathu Makkah.

Kalau mengikuti alur kitab ini, seluruh peristiwa tersebut ditempatkan dalam rangkaian yang saling terhubung, bukan sebagai kejadian yang berdiri sendiri.

Apa yang Menjadi Ciri Khas Kitab Ini?

Setelah mengikuti keseluruhan pembahasannya, ada beberapa hal yang cukup menonjol.

Yang pertama adalah pembedaan antara fikrah dan thariqah.

Penulis berkali-kali mengangkat dua istilah ini. Fikrah dipahami sebagai ide atau gagasan, sedangkan thariqah dipahami sebagai metode atau cara menjalankan gagasan tersebut.

Kemudian ada penekanan yang cukup kuat pada fase Makkah.

Bagian ini cukup sering muncul karena dipandang sebagai tahapan penting dalam keseluruhan proses perubahan yang dibahas kitab.

Lalu yang juga menarik adalah cara kitab ini merangkai berbagai peristiwa dalam sirah menjadi satu alur yang utuh.

Jadi peristiwa yang biasanya kita baca terpisah-pisah dicoba untuk dibaca sebagai satu rangkaian proses yang saling berkaitan.

Catatan Akhir

Sampai di sini kita mulai bisa melihat arah pembahasan kitab Daulah Al Islamiyah.

Kitab ini pada dasarnya tidak hanya menceritakan kembali Sirah Nabawiyah. Yang lebih banyak dilakukan adalah mencoba membaca perjalanan dakwah Rasulullah sebagai sebuah proses yang berlangsung tahap demi tahap.

Karena itu, pembaca akan menemukan cara baca yang sedikit berbeda dibandingkan banyak kitab sirah lainnya.

Terlepas dari bagaimana pembaca menilai argumentasi yang dibangun dalam kitab ini, yang menarik justru terletak pada sudut pandangnya. Sirah tidak hanya dibaca sebagai kumpulan cerita sejarah, tetapi sebagai rangkaian proses yang bergerak dari pembinaan, interaksi dengan masyarakat, pencarian dukungan, sampai terbentuknya kehidupan baru di Madinah.

Dan barangkali di situlah letak daya tarik utama kitab ini. Bukan sekadar pada kisah yang diceritakan, tetapi pada cara penulis membaca kisah tersebut dari awal sampai akhir.

Pasirgurun.
Pasirgurun.

Saya orang di balik PASIRGURUN. Blog pribadi tempat saya menyimpan berbagai hal yang saya temui, pelajari, kerjakan, dan pikirkan. Kadang membahas sejarah dan peradaban Islam, kadang buku dan psikologi, kadang WordPress, SEO, teknologi, atau sekadar cerita-cerita kecil yang sayang kalau lewat begitu saja. Kok namanya PASIRGURUN? nah ceritanya ada disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *