
Buku wajib orang-orang yang sedang membangun jaringan. Buku yang membuka pikiran kita tentang realita kehidupan.
Harus sadar kalau hidup itu nggak ada lembut-lembutnya. Di luar sana banyak orang-orang yang nggak sama sikap dan perilakunya dengan kita. Jangan kaget, jangan heran, dan mesti harus siap.
Plot Twist Kehidupan
Kita maunya nggak cari masalah, kita maunya cari teman, kita pinginnya jalin relasi, fakta nggak bisa begitu. Cara kerja kehidupan nggak seperti yang kita inginkan. Harus siap dengan plot twist seperti dramatisnya short film.
Mundur sekitar 20 tahun yang lalu, saya baru gabung dalam di mlm. Diajak kerabat untuk ikuti pertemuan mereka. Tapi sekarang kita gak sedang bahasa multi level marketing. Itu pembahasan berbeda. Kapan kapan kita bahas dan kita bisa diskusi di sana, hehehe.
Buku ini adalah buku wajib saat dulu tergabung dalam multi level marketing. Dua buku wajib yang harus dimiliki orang yang ingin sukses membangun jaringan.
Berpikir dan Berjiwa Besar yang ditulis oleh David J. Schwartz. Dan satu lagi Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain ditulis oleh Dale Carnegie.
Senjata MLM dan Relasi
Dua buku itu adalah senjata utama untuk para pemain multi level marketing. Kenapa? Karena nggak semua orang bisa bergaul. Punya teman banyak, relasi yang luas. Kan ada orang yang temennya bisa dihitung dengan jari. Kalau temennya itu-itu aja, gimana jaringannya bisa berkembang?
Bergaul males, ketemu orang takut, giliran diajak ngobrol orang baru melipir. Terus bilang sama diri sendiri, aku itu berkepribadian introvert. Jadi memang gitu bawaannya.
Kisah Resepsionis Hotel
Tantangannya lagi, kita datang dengan niat baik. Tidak melakukan kesalahan, coba memahami orang lain. Tapi bisa aja keberuntungan tidak berpihak. Bisa aja kita kena damprat sama orang lain.
Seperti diceritakan dalam buku ini, di mana seorang tamu hotel yang marah-marah sama resepsionisnya. Dengan nada tinggi, emosi jiwa, dan mengancam resepsionis itu, bahkan dia bakal mengadu kepada pihak hotel untuk memecatnya. Padahal posisi resepsionis hanya menjalankan tugas sesuai prosedur dan aturan yang ada.
Kalau kamu di posisi itu gimana?
Ambil sandal, lempar ke muka orang itu. Urusan kena sanksi atau dipecat urusan belakangan. Yang penting kasih pelajaran dulu sama orang yang kayak begini.
Jangan main-main ya sama saya! Saya punya HARGA DIRI! NKRI HAGRA MATI! Kalau gak suka tinggal disini silahkan pindah nergara lain.. eh salah hotel lain.
… Sumbu Pendek
Sumbu Panjang vs Sumbu Pendek
Tapi apa yang dilakukan resepsionis itu?
Dia tenang, nggak memasukkan kata-kata kasar dan ancaman customer itu ke dalam hati. Dia justru menyelesaikan masalah tanpa terpancing emosi.
Dari cerita ini kita bisa belajar orang-orang berjiwa besar memahami masalah orang lain bukan sebagai serangan pribadi. Tapiii… refleksi dari orang tersebut. Menjaga ketenangan dan membiarkan orang itu meluapkan emosinya pertanda kekuatan mental yang sejati.
Inilah kaum sumbu panjang yang nggak cepat meledak. Masih banyak waktu, banyak pilihan untuk merespon apa yang datang pada dirinya. Dan bisa jadi, sumbu itu malah mati dan nggak jadi meledakkan bomnya.
Coba tanya lagi kepada diri sendiri, seberapa panjang sumbu yang kita punya. Apakah kita termasuk kaum sumbu panjang yang nggak mudah meledak? Atau sumbu pendek yang baru senggol dikit langsung Duar!
Itu baru secuil kisah, belum lagi kisah yang lain didalam buku itu.
Kalau kamu pernah baca buku ini, apa yang paling berkesan?
Coba komen dibawah…




